x

Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Dipandang Sebelah Mata

waktu baca 3 menit
Sabtu, 15 Jun 2024 12:10 179 Redaksi Glodia

Indonesiaglodia.com- Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) seringkali dipandang sebelah mata, bahkan dianggap hanya mengganggu lingkungan.

Padahal, dengan perlakuan tersebut, akan memperparah kondisi ODGJ dan semakin menambah jumlah ODGJ yang berkeliaran di jalanan.

Banyumas bersepakat untuk mengatasi ODGJ dengan cara gotong-royong. Melalui Posyandu Kesehatan Jasmani dan Rohani (Poskesjaro).

ODGJ

Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Dipandang Sebelah Mata.foto.doc.

Baca Juga :  ' Nyantrik' Kolaborasi Dua Penari Lintas Generasi

 

Banyumas mengajak keluarga, masyarakat serta semua pihak untuk mempunyai kepedulian dan menempatkan ODGJ sebagai warga yang butuh perhatian.

Pj Bupati Banyumas, Hanung Cahyo Saputro menegaskan, jangan sampai ada pemasungan terhadap ODGJ, separah apapun kondisinya.

Jika dianggap membahayakan lingkungan sekitar, maka sebaiknya dibawa ke rumah sakit atau menghubungi petugas Puskesmas setempat.

ODGJ

Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Dipandang Sebelah Mata.foto.doc.

Baca Juga :  Ratusan Pramuka Siaga dan Penggalang Ikuti Ujian Pramuka Garuda

 

“Posyandu jiwa ini sangat penting, karena bisa mendeteksi secara dini. Dan jika ditemukan ada ODGJ dengan gejala berat, maka jangan sampai ada pemasungan”, tegasnya.

Saat melaunching Poskesjaro di Pendopo Surya Kusuma Yuda, Kecamatan Sumpiuh, Jumat (14/6/2024).

Kepala Sentra Satria Baturraden Kemensos RI, Darmanto mengatakan, penanganan ODGJ ada dua jenis, yaitu rehab medis dan sosial. Dan lounching Poskesjaro merupakan bagian dari upaya rehabilitasi sosial berbasis masyarakat.

Baca Juga :  Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro Silaturahmi Kamtibmas Penyandang Disabilitas

 

“Misalnya, ada 50 ODGJ dalam suatu kecamatan, maka dengan adanya Poskesjaro keberadaan mereka akan terpantau. Dalam Poskesjaro ada monitoring dan evaluasi.

Ada juga edukasi kepada masyarakat, supaya tidak takut dengan ODGJ dan sebaliknya justru melibatkan mereka dalam berkegiatan”, kata Darmanto,

Sementara Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Dwi Mulyanto menjelaskan, di Kabupaten Banyumas ada sekitar 3.000 ODGJ dan untuk di Kecamatan Sumpiuh terbilang cukup banyak, yaitu sekitar 200 orang.

“Poskesjaro ini wujud kehadiran pemerintah dalam masalah kesehatan masyarakat. Dengan adanya Poskesjaro, para ODGJ secara berkala mendapat pemantauan dalam kesehatan fisik maupun kejiwaan”, tuturnya.

Baca Juga :  Herliana Maharani Lurah Cantik Termuda Kota Depok

 

Dwi Mulyanto memaparkan, ODGJ tidak bisa sembuh total, tetapi mereka bisa kembali dalam kondisi normal. Hanya saja, perlu dijaga emosi serta tingkat stresnya dan tetap harus rutin minum obat.

Sehingga perhatian serta dukungan kelurga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk membuat ODGJ bertahan dalam kondisi normal.

Pada acara tersebut, para ODGJ juga mendapat bantuan berupa sembako hingga kebutuhan kebersihan diri seperti sabun, shampo dan lainnya dari Sentra Satria Baturraden.

Baca Juga :  Jumlah Orang Miskin di Jateng Turun 102,57 Ribu

 

Ada juga bantuan kursi roda khusus untuk balita yang menderita lumpuh layuh

Salah satu penderita, Agung Prabowo bercerita perjalanannya sejak sekolah hingga magang bekerja di luar negeri sampai dengan pulang dan harus berobat di Poli Jiwa RSUD Banyumas.

Remaja dari Desa Kuntili, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas tersebut, merupakan korban perundungan verbal, sejak masih sekolah hingga di dunia kerja.

Baca Juga :  Wisata Bareng Zulfikar Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat

 

“Tak hanya di sekolah, setelah bekerja pun saya mengalami perundungan. Saya pernah bekerja di Jawa Barat dan bertahan 2 tahun.

Saya tidak kuat dengan perlakuan perundungan verbal dari teman kerja. Saya juga pernah magang kerja pada perusahaan otomotif di Jepang dan berakhir sama, karena perundungan dari teman, saya berhenti dan harus membayar denda Rp 36 juta ke perusahaan.

Beruntung dengan mengurus surat keterangan miskin dari desa, keluarga saya terbebas dari kewajiban membayar denda tersebut”, ucapnya.

Agung kerap di bully, karena ia sering mendapat bisikan yang membuat tingkahnya dipandang aneh oleh teman-temannya.

Baca Juga :  Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Gelar Festival Balon Udara 2024

 

Komentar miring dari orang-orang sekitarnya membuatnya susah tidur dan bisikan-bisikan semakin sering.

Beruntung saat ini, Agung sudah lepas dari lingkungan yang tidak bersahabat tersebut dan ia sekarang menjalani aktivitas berkebun dirumahnya dengan tenang.

“Setelah 4 tahun berobat di RSUD Banyumas, sekarang saya tidak lagi mendapat bisikan-bisikan dan sudah bisa tidur dengan normal, sepanjang selalu rutin minum obat”, ucapnya.

Baca Juga :  Bupati Sadewo Tri Lastiono Pimpin Rapat Kesiapan Jelang Nataru 2025-2026

 

IG Yayu

Redaksi Glodia

Media Online Indonesia Glodia
Merupakan media yang mengedepankan,
Penuh Daya Cipta Naluri dan Filosofis.
www.indonesiaglodia.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x